November 12, 2006

ridwan kecil

Pukul 13.00 wib yang menyengat di Porong, Sidoarjo-Jawa Timur.
Tangan mungil anak lelaki berbaju kuning itu kuat-kuat memegang beberapa keping vcd bertuliskan tragedi lumpur porong di sampul depannya. siang ini teriakannya terdengar pelan, tenggelam oleh pergolakan tentang benar dan salah, tuntutan, dendam, umpatan dan kekaguman. sudah 3 bulan ini bencana lumpur porong menjadi tempat wisata bagi sebagian masyarakat. setiap sabtu dan minggu, ratusan orang berdatangan untuk sekedar menikmati bencana ini. tapi ada beberapa orang "menziarahi" rumah mereka yang terkubur di situ. Angin bertiup kencang ke arah barat, membawa aroma kepedihan dan luka yang menusuk dari ratusan rumah yang tenggelam dalam lumpur. namun anak ini tidak memakai masker seperti yang wajib aku pakai sebagai standard liputan di sini. semangat menjajakan vcd dagangannya. seorang ibu tua menghampiri mencoba menawar harga, setelah beberapa lama 3 lembar uang 5000an diterimanya.

"mengapa tidak kujadikan narsum-ku saja ya?" dengan sigap seorang rekan reporter langsung saja mendekatinya, memegang pundaknya dan mencoba berbicara dengannya. aku hanya melihat mereka berdua dari kejauhan. 10 menit berlalu, rekan reporter tadi kembali padaku dan berkata bahwa anak ini tidak bisa berbahasa indonesia.. ridwan nama anak ini setelah aku bertanya padanya dengan bahasa jawa, menjual vcd untuk membantu orang tuanya yang kehilangan pekerjaan karena pabriknya ikut tenggelam bersama pabrik2 lain di sekitarnya. aku mencoba membujuknya agar bersedia kami wawancarai, tapi si ridwan malah lari ke tengah kerumunan para wisatawan lumpur dan langsung berteriak lagi menjajakan vcd-nya, kaset...kaset..kaset lumpur porong.... (begitulah, dia menyebut vcd dengan kaset. demikian pula para penjual lainnya).

aku baru saja menyelesaikan risetku dan teriakan-teriakan itu masing terngiang di telingaku. kaset...kaset...kaset lumpur porong.... sampai kapan ridwan dan penjual kaset "vcd2" itu menjajakannya?

*11/11/06, di bibir tanggul ds. Jatirejo-Porong Sidoarjo-Jatim

October 16, 2006

August 30, 2006

akhir gores batu

usai sudah segala kelam yang membelenggu, jadi cambuk yang tiap waktu menderaku. hingga suatu malam sehabis Isya' bertemu kekasih tulang rusukku. Senyum slalu kuurai diantara kepungan badai yang merontokkan dedaunan, batang-batang mimpi dan merobohkanku. Mungkin sudah saatnya menghentikan pahatan-pahatan pada bebatuan, mengukir nyanyian hati di dasar batu-batu kali. Memang melelahkan, namun pekerjaan ini tak akan pernah menemukan titik-nya........ jika kebenaran masih terinjak dan terpaku pada kelamnya hati....
*( jam 16.11 sudah "sore", pengen buru-buru pulang dan meneruskan "perjuangan"!!! )

April 21, 2006

Makhluk Tuhan juga...



saatnya tuk berpikir, tentang keseimbangan

December 03, 2005

cerita dalam selokan

Satu demi satu, kaki penuh kudis itu memasuki kubangan selokan. Hidungnya menciumi permukaan air bercampur lumpur, sedang satu kaki depannya mengais sisa makanan dalam bungkusan kertas lusuh. Sederet huruf terbaca pada sobekan kertas yang ternyata headline koran pagi tadi, "SEORANG PEJUANG DITEMBAK KEPALANYA!" digigit dan dibawanya menyusuri panjang selokan bau itu mencari tempat nyaman, entah untuk membaca beritanya atau hanya sekedar menyantap nasi di dalamnya. Namun penguasa malam mulai menyedot habis darahnya...tak terasa pula dua aliran sungai mengkilat turun membenamkan impiannya dahulu! "Tiba-tiba kepalanya ditodong senapan, dipopor dan bukan itu saja, setelah derap lars sepatu lainnya mendekat, kepalanya terasa ringan, darahnya terbakar seketika juga membeku...DOR!!Tiupan angin malam membuatnya tersentak. Sadar tak mungkin lagi memecah amarah apalagi sekedar balas dendam...

November 30, 2005

bukan kulminasi

alhamdulillah akhirnya sampai juga disini... tapi lihat saja, besok aku kan berlari... lagi dan lagi.. sampai tak ada lagi koma pun titik!

September 07, 2005

Diantara kasak-kusuk,
himpitan dan tekanan,
wajahnya menebar kerinduan.
Kubelai rambutnya yang hitam,
yang di tiap helainya berisi cinta.
Ingin kuberikan...
sebanyak kedamaian
dan kebahagiaan.